Dr. Wahyudi Pramono, M.Si.
Kode Buku: Pol15
Buku ini menghadirkan kisah menarik tentang bagaimana nilai-nilai keislaman, budaya lokal, dan praktik demokrasi bertemu di ruang politik Madura. Buku ini mengungkap bagaimana demokrasi di tingkat lokal tidak bisa dilepaskan dari kekuatan budaya dan religiusitas masyarakat. Penulisan dengan kecermatan tinggi dan kaya literatur, telah berhasil menggambarkan dari tiga figur utama dalam kehidupan sosial-politik Madura yakni: kyai, blater, dan klebun. Ketiga elite lokal ini, memainkan peran penting dalam menentukan arah politik masyarakat Sampang. Ketiganya menjadi simbol otoritas religius, sosial, dan administratif yang saling berinteraksi, bersaing, bahkan berkolaborasi dalam kontestasi politik Pilkada 2018.
Dalam buku ini, pembaca diajak memahami bahwa demokrasi lokal tidak semata soal pemilihan langsung atau persaingan partai politik, melainkan juga arena negosiasi nilai, kepercayaan, dan kekuasaan yang berakar kuat dalam tradisi masyarakat Madura. Kehadiran kyai dengan kharisma keagamaan, blater dengan jaringan sosial yang luas, dan klebun dengan kekuasaan formalnya menunjukkan bahwa praktik politik lokal sering kali berjalan di antara modernitas demokrasi dan kearifan tradisi. Singkatnya, Buku ini membuka mata pembaca tentang bagaimana demokrasi lokal tidak sekadar diwarnai oleh prosedur elektoral, tetapi juga oleh kekuatan tradisi, jaringan sosial, dan kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat.
Ditulis dengan bahasa renyah sehingga mudah dipahami, buku ini menarik bagi masyarakat umum, tidak hanya akademisi dan pemerhati politik, untuk yang ingin mengenal wajah nyata demokrasi lokal di Indonesia. Karya ini membuka ruang refleksi bahwa demokrasi tidak tumbuh di ruang hampa; ia beradaptasi dengan kultur lokal, nilai-nilai Islam, serta dinamika sosial yang hidup di tengah masyarakat utamanya Madura. Sebuah bacaan yang menggugah dan mencerahkan untuk memahami bagaimana demokrasi bekerja dalam realitas masyarakat Indonesia yang majemuk dengan melalui nilai-nilai sosial dan spiritual bangsa.

